Lansia dan Bayi Korban Banjir Tidur di Emperan Toko

KARAWANG,- Lansia hingga bayi korban banjir terpaksa tidur di emperan pertokoan lantaran tidak ada tempat lain untuk menginap. Tenda pengungsi jumlahnya terbatas, dan tidak ada evakuasi pengungsi ke berbagai aula yang ada di Karawang menjadi penyebab. Di emperan toko, pengungsi tidur kedinginan dan diserang nyamuk.

Salah satu pengungsi, Entin Kartini (40) mengaku sudah dua malam tidur di emperan toko di komplek pertokoan Karawang Hijau di Jalan Interchange Karawang Barat. Alas tidurnya hanya tikar, dan beberapa helai selimut untuk sedikit menghangatkan badan. Rumah Entin di Kampung Jenebin RT 10/5 Desa Purwadana, Kecamatan Telukajambe Timur, terendam banjir dengan ketinggian mencapai satu meter.

Jumlah keluarga Entin ada lima orang. Anggota keluarga terkecil yaitu bayi berusia empat bulan. Semuanya tidur di emperan toko. Entin mengaku tidak ada tempat lagi untuk tidur.

“Tenda yang ada cuma satu, itupun sudah penuh. Saya tidak ada tempat lagi untuk tidur, bayar hotel harganya malah, jadi terpaksa tidur di lantai emperan toko ini,” tutur Entin, Senin (22/2).

Entin mengaku, saat tidur malam hari anaknya yang masih bayi itu sempat kedinginan. Entin pun sempat kewalahan mencari minyak kayu putih di posko pengungsi. Entin khawatir banyinya itu akan jatuh sakit lantaran tidur di emperan toko.

Satu nasib dengan Entin, pengungsi lainnya Meli Nopitasari (32) mengaku terpaksa merelakan kedua orang tuanya yang sudah lansia untuk tidur di emperan toko. Warga Kampung Jenebin RT 10/5 itu sudah dua malam tidur di emperan toko. Meli belum bisa pulang lantaran rumahnya masih terendam banjir.

“Keluarga saya jumlahnya ada delapan orang, dua diantaranya lansia usia sekitar 70 tahun, yaitu bapak dan ibu saya. Semuanya harus tidur di emperan toko ini karena tidak ada tempat lagi. Tenda pengungsi yang tersedia sudah penuh sesak,” kata Meli.

Meli mengaku sangat butuh selimut sebab pada malam hari sangat dingin. Meli mengaku untuk makanan sudah tercukupi karena disuplay dari dapur umum. Meli berharap ada tempat seperti aula untuk dijadikan tempat mengungsi. (Teguh Purwahandaka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori berita