PJT2 Bantah Banjir Karawang Berasal dari Waduk Djuanda

KARAWANG,- Perusahaan Jasa Tirta 2 (PJT2) mengungkap, banjir Karawang bukan kiriman air dari Waduk Djuanda, di Jatiluhur Kabupaten Purwakarta. Debit air yang dikeluarkan Waduk Djuanda yaitu 97 meter kubik per detik, atau 10 persen dari debit air banjir ke Karawang yang mencapai 1.200 meter kubik per detik.

“Intensitas hujan di daerah hulu Citarum itu rendah. Walaupun ada kiriman air dari hulu citarum ke Waduk Djuanda dengan adanya banjir tanggal 19 dan 20 Februari kemarin, tidak membuat kondisi debit air menjadi tinggi. Karena sebelumnya Waduk Djuanda debit airnya rendah akibat kemarau panjang. Jadi kontribusi debit air pada banjir kemarin hanya 10 persen yang berasal dari Waduk Djuanda,” kata Direktur Operasional dan Pemeliharaan PJT2, Anton Mardiyono.

Ditambahkan Anton, intensitas curah hujan di daerah hilir Citarum cukup tinggi sehingga membuat Daerah Aliran Sungai (DAS) Cibeet dan DAS Cipamingkis meluap. Ditambah di dua DAS itu belum ada bendungan sehingga membuat Karawang banjir dengan debit air mencapai 1.200 meter kubik per detik.

“Untuk itu, dalam rapat antara DPR RI, Plh Bupati Karawang, BBWS, PJT2, dan DPRD Karawang tadi sepakat untuk meminta pemerintah agar mempercepat progran kerja pembangunan waduk di DAS Cibeet dan DAS Cipamingkis,” tutur Anton saat ditemui di Plaza Pemkab Karawang, kemarin.

Kondisi terkini, debit air di Waduk Djuanda berstatus normal. Debit air yang dikeluarkan dari Waduk Djuanda cukup rendah, hanya untuk keperluan air baku minum, air baku industri dan untuk pergerakan air ke hilir atau flushing.

“Kami umumkan bahwa kondisi Waduk Djuanda dalam keadaan normal dan berfungsi dengan baik. Jika ada isu soal Waduk Djuanda mengalami retak, itu tidak benar. Belum lama ini kami melakukan insfeksi untuk mengetahui kondisi Waduk Djuanda, dan hasilnya normal,” tandas Anton. (Teguh Purwahandaka)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori berita